TAKKAN PERNAH LAGI IBU
Kurnia Gusni
Terbit di Singgalang 20 November 2016
Namaku Neha, aku paling suka
mengintip saat-saat matahari menutup bola matanya. Karena jendela kamar ku berhadapan dengan matahari
terbenam yang orang bilang itu adalah Sun
Set. Seperti hari ini sambil duduk di kursi belajar yang baru dibelikan
oleh ibu, kursi yang berwarna biru, sebiru lautan yang begitu dalam. Kursi dan meja
belajar
baru yang bergambarkan tokoh filem kartun, filem yang digemari banyak
orang, tepatnya adalah filem Frozen. Filem yang paling aku sukai. Aku memandang lepas ke jendela kamar dengan tatapan
kosong, tanpa arah dan makna. Dengan sayup aku mendengar teriakan
seseorang memanggil namaku “Neha, tutup jendela kamarmu nak. Apa kau tidak lihat hari
sudah sore.” Ya,
tidak asing lagi itu adalah suara cantik ibuku.
“Iya bu.” Ujarku sambil berdiri dan bergegas menutup pintu jendela kamarku.
Dengan tersenyum aku masih menunggu sambungan pembicaraan ibu. Karena aku tahu sekali kalau ibu marah, sulit sekali untuk
menghentikan celotehannya.
“Kenapa setiap sore kau harus ibu
ingatkan untuk menutup jendela kamarmu.” Dengan suara tinggi yang bisa
didengar oleh seluruh penjuru “Kau tahu kalau sore hari itu nyamuknya
sudah banyak, kalau kau tidak segera menutup
pintu jendelamu semua nyamuk bisa masuk kekamar mu Neha.”
Yah begitulah ibu. Bagaimanapun ia,
dia adalah ibuku. Ibu tersayang yang paling aku banggakan. Wanita terhebat yang
ada di dunia
ini. Aku tahu
semua perkatan ibu benar, tapi bukan maksud untuk tidak mendengarkan ibu, tapi
tak dapat dipungkiri aku memang suka menikmati suasana di senja hari.
*****
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun,
aku tak pernah lupa membersihkan tempat tidurku, kemudian mencuci piring, dan
pekerjaan terakhir adalah membersihkan rumah. Itulah pekerjaan wajib yang harus
aku kerjakan untuk mendapatkan uang jajan dari ibu. Karena kata ibu sebagai
anak perempuan kita tidak boleh malas. Jadi untuk melatih jadi anak yang rajin
dan disiplin ibu memberikan pekerjaan wajib padaku setiap hari. Jika aku tidak
mengerjakannya maka ibu tidak akan memberi uang jajanku ke sekolah. Meskipun baru menduduki bangku SD
aku sangat menikmati pekerjaan wajib yang diberikan oleh ibu, tanpa ada rasa
dongkol dan kesal di hatiku. Nasibku memang tidak sebaik teman sebayaku, yang
jika jam 5 masih tidur nyenyak sambil bermimpi indah. Meskipun seperti itu aku
tidak pernah menyesalinya malahan aku menyukai aturan yang dibuat oleh ibu.
Setelah semuanya selesai barulah aku
mandi dan siap- siap untuk pergi ke sekolah. “Bu Neha berangkat ke sekolah dulu ya.” sambil mencium tangan kanan ibu
yang mulai keriput, bukan karena sudah tua tetapi karena beban kehidupan
yang terlalu berat yang dipikul oleh ibu.
“Kamu sudah makan nak ?” Aku hanya diam dan berusaha cepat
meninggalkan ibu karena takut terlambat datang ke sekolah. “Nanti saja bu di sekolah.” Ujarku sambil bergegas berjalan
karena malas mendengar celotehan ibu.
“Setiap hari ibu bilang, sebelum
kesekolah makan dulu Neha, tapi kau selalu saja tidak mendengarkan ibu. Apa
susahnya sarapan pagi nak !! Nanti kalau kau sakit ibu juga yang repot. Kalau
Ayahmu tahu
di surga
sana tentang kelakuan mu yang malas makan pasti Ayahmu akan marah besar sama
kamu Nak.” Sampai aku tidak terlihat lagi baru
ibu berhenti berceloteh. Semua unek-unek ia keluarkan dari a sampai z. Kalau dituliskan, ibarat sebuah
buku mungkin
ada dua BAB pembahasan. Ya, begitulah kalau ibu marah.
*****
Hampir setiap hari aku tidak pernah
sarapan pagi. Karena menurutku sarapan pagi dengan lotong tek Ida sudah cukup membuat perutku
kenyang sampai pulang sekolah. Tek Ida adalah etek yang menjual lontong di
sekolahku. Selain
terkenal enaknya, lontong tek Ida juga terkenal dengan harganya yang
murah dan terjangkau buat anak-anak SD seperti kami. Tek Ida
juga ramah, dan sangat menyayangi anak-anak seusia kami.
Pagi ini, adalah jam pelajaran olah
raga bagi siswa kelas 5 SD N 1 Pancung Soal. Aku dan Lara sahabatku sudah rapi
dengan baju seragam olahraga yang diberikan oleh sekolah empat tahun yang lalu.
Baju yang berwarna kuning dan dicampur dengan warna biru.
“Prit, prit, prit.” Buguru membunyikan peluitnya dengan keras. Semua
siswa kelas 5 bergegas berkumpul di lapangan
sekolah yang begitu luas.
“Anak-anak
hari ini kita mengambil nila
berlari. Siapa yang paling cepat larinya itulah nanti yang akan mendapatkan nilai tertinggi.” Ini adalah nilai praktekku
yang pertama. Kami dibagi kedalam 6 kelompok. Tiap-tiap kelompok terdiri dari 5
orang siswa. Setiap kelompok nanti akan dilombakan untuk berlari sekitar 15 meter. Siapa yang paling
cepat kembali keposisi semula dialah pemenangnya. Kemudian tiap-tiap anggota
kelompok yang menang akan diadu lagi untuk mencari pemenang utamanya.
Jam
menunjukkan pukul 9.00 WIB. Waktu olahraga sudah habis. Kami pun bergegas masuk kekelas
untuk menunggu guru matematika yang
mengajar hari ini. Kelas terdengar hiruk pikuk.
Ada yang saling lempar-lemparan kertas, ada yang asik bercerita, dan adapula
yang asik berkejar-kejaran. Aku dan Lara duduk di kursi
paling depan. Karena dari depan aku bisa melihat papan tulis dengan jelas, dari
depan aku juga bisa mendengarkan suara guru dengan jelas. Dari depan pula aku bisa focus memperhatikan guru
yang sedang menyampaikan materi. Sambil menggu guru matematika yang bernama buk Mirna,
Lara mengajakku ke kantin yang tidak jauh dari kelas
kami. Sesampai disana kami membeli es lilin. Belum habis kami memakan es
lilinnya, tiba-tiba kami melihat buk Mirna menuju ke lokal 5 A. Dengan jalan
yang khas ia melenggak lenggokan tubuhnya yang ramping. Bibirnya yang
mungil dipolesi dengan lipstick berwarna pink muda. Alis matanya, eye linnernya,
dan seluruh dandanannya membuat aku bepikir
betapa cantiknya buk Mirna.
Tidak
beberapa menit di kelas, tiba-tiba saja perut ku sakit. Awalnya aku masih bisa
menahan rasa sakit yang bersumber dari
perutku. Tapi lama kelamaan sakitnya begitu menyesak
ke ulu hati. Sakit sekali. Tak
terasa air mengalir begitu deras diseluruh tubuhku. Pandanganku terasa kabur. Dengan
tiba-tiba tubuhku terjatuh ke lantai.
Rambutku yang panjang jatuh terurai dengan berantakan. Aku begitu takut, aku
tidak bisa mendengarkan suara buk Mirna dengan jelas. Semua terasa gelap. Ibu,
tolong aku, aku belum ingin meninggalkanmu ibu.
Dari
jauh sangat jauh sekali aku mendengar suara buk Mirna memanggil-manggil namaku dan
kemudiam memegang keningku.
“Badannya panas sekali, ayo anak-anak kita angkat Neha ke UKS.” Aku tetap berusaha mencoba membuka kedua
mataku, tapi usahaku
sia-sia. Kelas terasa begitu ramai, entah ramai karena berusaha menolongku,
atau bahkan ramai hanya ingin menontonku yang sudah tidak berdaya. Yang jelas
pada saat itu pandangan dan pikiran ku sudah tidak bersama mereka lagi.
*****
Saat pertama kali membuka kedua bola
mataku, orang pertama yang kulihat adalah wanita terhebat yang paling aku
sayangi. Yaitu Ibu. Tangannya memegang erat tanganku, sepertinya ibu kelelahan,
tidurnya begitu lelap. Aku memandangi wajah ibu yang begitu damai, tak terasa
air mengalir begitu deras di pipiku. “Ma’afkan aku Ibu, takkan pernah ku ulangi
lagi Ibu.” Mendengar kata-kataku ibu terbangun, dan merangkulku dengan penuh
kasih sayang.
“Ibu menyayangimu Nak, jangan pernah tinggalkan ibu Nak.
Cukup ayahmu saja yang pergi meninggalkan ibu.” Suasana rumah sakit yang begitu
hening, kami pecahkan dengan isak tangis yang tak dapat kami hentikan. Ibu
masih merangkulku. Begitu hangat pelukannya. Ternyata sudah seharian aku tidak
sadarkan diri dirumah sakit. Kata dokter aku mengidap penyakit maag. Karena tak
bisa menahan rasa sakit, itulah yang menyebabkan aku pingsan di kelas. Sekarang
aku tahu betapa berharganya kesehatan itu. Mulai hari ini detik ini aku
berjanji dalam hati kecilku untuk membiasakan sarapan pagi. “Tak akan pernah
lagi ku ulangi Ibu.”
